Budaya jam karet memang
bukanlah hal baru di Indonesia, seakan sudah mengakar dan menjadi culture yang sudah sangat dekat dengan kehidupan
di Indonesia. Nah apakah penyebab dari kejadian jam karet ini? Mari kita kupas
di artikel ini.
‘Budaya’ jam karet adalah salah satu contoh sifat toleransi yang tidak bisa
diterapkan pada masalah bisnis. Sebab mengapa hukuman terhadap orang yang
melakukan korupsi masih saja ragu-ragu untuk diberikan, mungkin karena sifat
orang kita yang terlalu baik hati dan bertoleransi. [dikutip dari tulisan Bapak
Purwadi Raharjo].
Ketidak adilan Bagi Si On-Time ; Penghormatan Untuk Si Tukang
Telat
Pasti bukan cuma saya yang merasa miris dengan budaya jam karet yang
sudah bagai Gurita Raksasa di
negeri ini. Di kantor-kantor [Negeri maupun swasta], di tempat-tempat acara
formal [apalagi informal] sudah menjadi rahasia umum kalau panitia membuat
jadwal lebih dimajukan daripada waktu mulai acara yang sebenarnya untuk
mengantisipasi hadirin yang biasanya lebih banyak terlambat daripada yang on-time.
Artinya seringkali panitia pelaksana suatu acara juga bersikap TIDAK
ADIL dengan orang-orang yang datang duluan alias on-time schedule dan lebih suka memundurkan acara dalam
rangka menunggu orang-orang yang datangnya terlambat. Dengan kata lain dalam
kasus ini yang datang on-time malah
DIHUKUM untuk menunggu orang-orang yang terlambat. Luar biasa bukan?
Kelihatannya
sepele tapi inilah yang sering terjadi, termasuk bila kita membuat janji dengan
orang lain kemudian kita terlambat dan membuat rekan kita itu menunggu begitu
lama dan ketika datang tak ada permintaan maaf sama sekali atau upaya
menjelaskan keterlambatan dengan memberi kabar sebelumnya. Wah…saya yakin anda
semua pernah mengalaminya bukan, berhadapan dengan orang semacam ini? Bagaimana
perasaan anda saat menunggu si tukang telat ini?
Atau
pernahkah anda merasakan membuat janji dengan seseorang dan orang itu
membatalkannya begitu saja ketika anda sudah sampai di tempat anda membuat
janji dengan orang itu? Atau anda pernah menjadi orang yang membuat janji itu
lalu membatalkannya seketika? Putarlah lagi waktu anda untuk mengingatnya!
Kalau sudah, ingatlah rekan anda yang anda zalimi itu berjanjilah dalam hati
untuk menjadikan hal ini sebagai yang terakhir kalinya.
“Disiplin tidak
menjamin kesuksesan, tapi tidak ada kesuksesan yang diraih tanpa kedisiplinan.”
Termasuk disiplin dalam hal penggunaan waktu.
Memang susah sekali
jika jam karet sudah jadi bagian dari masyarakat. Untuk
itu berikut ke-3 penyebab yang menjadikan budaya jam karet ini sulit
dihilangkan dari kehidupan kita.
1.
Orang-Orang Suka Menunda.
Ya, suka menunda adalah penyebab utama dari budaya jam
karet ini. Tak bisa dipungkiri, ada cukup banyak orang yang kerap menunda melakukan
sesuatu. Misalnya menunda pertemuan, tentu saja hal semacam ini akan
mempengaruhi waktu orang lain. Dan jika waktu seseorang sudah terganggu maka
dampaknya bisa meluas ke berbagai hal lain.
Mau tak mau, keterlambatan akan sering terjadi. Dan
jadilah jam karet.
Kebiasaan menunda memang tidak baik, untuk itu mari
kita mulai dari kita untuk lebih bersegera dalam melakukan sesuatu :).
2.
Orang-Orang Menganggap Bahwa Jam Karet Sudah Jadi Budaya.
Banyak orang yang
merasa bahwa buat apa datang cepat, toh akhirnya acaranya
pasti molor.
Kira-kira begitulah persepsi sebagian orang, mereka
menjadi malas datang tepat waktu (datang cepat) karena mereka meyakini bahwa
biasanya acara akan jadi molor. Dari jam 9 jadi jam 9.30, dari jam 10 jadi jam
10.45 dan seterusnya.
Dan kebiasaan ini sudah
jadi habits, sudah jadi kebiasaan, jadi mau tak mau jelas
tidak mudah untuk dihilangkan.
3.
Kebiasaan Memaklumi Keadaan.
Di Indonesia bukanlah
hal yang tabuh untuk memaklumi sesuatu, misalnya seseorang terlambat ke kantor.
Lalu ia ditanya oleh atasannya, kenapa kamu terlambat?
Di jalan tadi macet
pak..
Ya hal semacam ini tidaklah asing bagi sebagian orang.
Akan selalu ada saja alasan agar kita dimaklumi. Kebiasaan memaklumi ini jika
terlalu sering dan lama maka menjadi tidaklah baik. Pemakluman yang terlalu
sering akan mengakibatkan kita kurang tegas, dan kalau tidak tegas disiplin pun
jadi susah untuk diterapkan.
Walhasil imbas nya
adalah kebiasaan jam karet menjadi kerap
dimaklumi oleh orang-orang.
Nah rekan pembaca itu dia 3 penyebab budaya jam karet
tetap eksis di Indonesia saat ini. Tidak ada guna nya kita mengeluhkan keadaan
dan budaya jam karet ini. Lebih baik kita menjadikan diri kita lebih baik.
Kita
semua sepakat, bahwa perubahan besar selalu dimulai dari hal-hal kecil. Saya
percaya banyak kisah keberhasilan dan sukses orang-orang besar dalam karir dan
perjalanan hidupnya karena melakukan kebaikan-kebaiakan kecil dan terus menerus
mempertajamnya, mulai kini janganlah lagi bertoleransi dengan budaya jam
karet!..
Untuk itu yuk kita mulai dari diri kita sendiri, mari
belajar disiplin dimulai dari diri sendiri, mari kita lebih tepat waktu dan
yang pasti kita harus lebih tegas agar kita bisa disiplin.
Semoga
bermanfaat

siiippp..
ReplyDelete